Jumat, 10 Juni 2011

Kulit Katak Mampu Sembuhkan Kanker


TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Penelitian terbaru menunjukkan hasil positif atas ditemukannya obat jenis baru dari kulit katak jenis tertentu untuk sejumlah penyakit kronis dan berat.
Berkat temuan itu, para ilmuwan di Universitas Queen’s, Belfast, Irlandia Utara, mendapat penghargaan atas hasil penelitian mereka. Hasil penelitian itu menunjukkan kulit katak tertentu dapat bermanfaat bagi pengobatan 70 penyakit utama.
Para ilmuwan itu memperoleh penghargaan untuk penemuan medis, the Medical Futures Innovation Awards, di London hari Senin (6/6/2011).
Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Chris Shaw di Perguruan Tinggi Farmasi Queen’s itu mendapati dua jenis protein yang dapat mengatur bagaimana pembuluh darah tumbuh.
Kelompok peneliti tersebut adalah satu-satunya tim Irlandia Utara yang ikut serta dalam lomba untuk memenangkan penghargaan tahun ini. Mereka mendapati bahwa protein dari jenis kodok tertentu (katak dari jenis monkey frog) dapat menghambat pertumbuhan pembuluh darah dan dapat digunakan untuk membunuh sel tumor.
Profesor Shaw mengatakan bahwa kebanyakan sel tumor hanya dapat tumbuh sampai ukuran tertentu sebelum sel itu memerlukan pembuluh darah untuk tumbuh ke dalam tumor guna menyalurkan zat makanan dan zat oksigen yang amat penting.
“Menghentikan pertumbuhan pembuluh darah akan mengurangi kemungkinan menyebarnya tumor dan bisa jadi akan membunuh tumor itu,” katanya.
“Hal ini memiliki potensi untuk mengubah kanker dari penyakit yang mematikan menjadi menjadi suatu kondisi kronis.”
Tim yang dipimpin Profesor Shaw juga menemukan bahwa suatu jenis katak raksasa (firebellied) menghasilkan protein yang dapat merangsang pertumbuhan pembuluh darah dan dapat membantu penyembuhan pasien dari luka dan operasi secara lebih cepat.
“(Temuan) ini berpotensi untuk merawat berbagai penyakit dan kondisi yang memerlukan pembuluh darah untuk pengobatan lebih cepat, seperti misalnya mengobati luka, transplantasi organ tubuh dan kerusakan akibat stroke atau penyakit jantung,” kata Profesor Shaw.
Menurut profesor tersebut, para ilmuwan dan berbagai perusahaan farmasi di seluruh dunia, kendati telah menghabiskan uang sampai sekitar US$5 miliar, belum berhasil mengembangkan obat yang dapat secara manjur mengena pada pembuluh darah, mengontrol dan mengatur pertumbuhannya.
“Tujuan usaha kami di Queen’s adalah untuk membuka pintu potensi yang dimiliki alam - dalam hal ini zat yang ditemukan pada katak dan kulit katak - untuk mengurangi penderitaan umat manusia. Kami yakin alam ini menyimpan pemecahan atas berbagai masalah yang kita hadapi. Kita perlu mengajukan pertanyaan yang tepat untuk bisa menemukan pemecahan itu,” kata Profesor Shaw.
“Akan sangat disayangkan kalau alam ini memiliki sesuatu yang berpotensi menjadi obat manjur bagi penyakit kanker dan kita tidak berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya bermanfaat,” ujarnya.
Menanggapi penemuan Profesor Shaw dan rekan-rekannya itu, anggota tim penilai Profesor Brian Walker dan Dr Tianbao Chen menyatakan ingin mendorong para ilmuwan agar membawa hasil penemuan mereka ke tingkat berikutnya.
“Gagasan Profesor Shaw ini benar-benar sangat inovatif dan menggembirakan di area yang kebutuhannya belum banyak terpenuhi,” kata tim penilai itu.
“Amatlah penting untuk menyadari bahwa penemuan ini masih dalam tahap dini dan banyak usaha masih harus dilakukan sebelum sampai pada tahap pengobatan klinis,” pungkasnya (*/bbc)


TRIBUNnews.com