Kamis, 31 Maret 2011

WikiLeaks: Dana Century Mengalir ke SBY


"Itu berita lama semua yang nggak ada buktinya," kata Mubarok.

VIVAnews - Dua harian terkemuka Australia, The Age dan Sydney Morning Herald, juga beberapa media asing lainnya, melansir kawat diplomatik rahasia Kedubes AS di Jakarta yang dibocorkan WikiLeaks, yang kini menggemparkan Indonesia.

Salah satu kawat diplomatik itu mengungkapkan informasi di seputar kampanye pemilihan presiden 2009. Berpasangan dengan Boediono, Yudhoyono meraih kemenangan 60 persen suara, mengalahkan dua pasangan lainnya.

Yang juga kontroversial, laporan itu mengaitkan kampanye SBY dengan Bank Century. "Salah satu organisasi antikorupsi secara khusus mengatakan kepada Kedubes AS bahwa menurut 'sumber yang terpercaya' dana Bank Century digunakan untuk membiayai pencalonan kembali Yudhoyono," demikian dimuat situs berita Asia Sentinel yang menampilkan berita koran The Age, Jumat, 11 Maret 2011.

Juga disebutkan dalam bocoran dokumen itu, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengritik keras keputusan untuk melakukan bailout Bank Century dan menuduh BI lalai mengawasi Bank Century. Menurut Kalla, Bank Century seharusnya ditutup.

Bagaimana partai Presiden Yudhoyono, Demokrat, menanggapi tuduhan itu?

"Itu berita lama semua yang nggak ada buktinya. Kami anggap angin lalu, nggak mau ngurusin," kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Achmad Mubarok saat dihubungi VIVAnews.com, Jumat, 11 Maret 2011.

Mubarok menyamakan apa yang dimuat WikiLeaks dengan tuduhan yang dilontarkan Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera). "Bendera waktu itu ngomong seperti apa? Di mana buktinya? Katanya ada nama Hadi Utomo (mantan Ketua Umum Partai Demokrat), tapi ternyata orang lain," kata Mubarok. "Ini agenda hiruk pikuk. Setelah reshuffle nggak ada, ganti kasus ini."  (umi)
• VIVAnews 



Jum'at, 11 Maret 2011